Home » , » Kendala dan Peluang dalam Produksi Pertanian Organik di Indonesia

Kendala dan Peluang dalam Produksi Pertanian Organik di Indonesia

KENDALA DAN PELUANG DALAM PRODUKSI
PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA *)
Oleh : Tino Mutiarawati **
PENDAHULUAN
Komitmen Pemerintah: Tahun 1992 Indonesia secara resmi telah menentukan sikap untuk ikut dalam program pelestarian lingkungan dengan ikut menandatangani Agenda 21 dalam KTT Bumi di Rio de Janeiro. Agenda tersebut mengharuskan setiap negara menyesuaikan kebijakan pembangunan pertaniannya pada prinsip Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agriculture) dan memasyarakatkan konsep pertanian berkelanjutan tersebut. Konsep pertanian berkelanjutan tersebut di beberapa tempat diterjemahkan dengan pelaksanaan berbagai sistem pertanian antara lain :
- Organic Farming (Pertanian Organik)
- Ecological Farming (Pertanian Ekologi)
- Biological Farming (Pertanian Biologis)
- Alternative Farming (Pertanian Alternatif)
- Nature Farming (Pertanian Alami)
- Integrated Farming (Pertanian Terpadu)
- Regenerative Farming (Pertanian dengan sistem regenerasi)
- Low-External Input Farming (Pertanian dengan penggunaan input-luar yang rendah)
- Balance-Input Farming (Pertanian dengan penggunaan input berimbang)
- Precision Farming (Pertanian “tepat”)
- “Wise-use” of Input Farming (Pertanian dengan pemanfaatan limbah)

Pengertian Pertanian organik :
 Merupakan sistem pertanian yang bertujuan untuk tetap menjaga keselarasan (harmoni) dengan sistem alami, dengan memanfaatkan dan mengembangkan semaksimal mungkin proses-proses alami dalam pengelolaan usaha tani (Kasumbogo Untung, 1997).
 Suatu sistem pertanian yang tidak menggunakan bahan kimia buatan; mewujudkan sikap dan perilaku hidup yang menghargai alam; dan berkeyakinan bahwa kehidupan adalah anugerah Tuhan yang harus dilestarikan (Joko Prayogo dkk., 1999).
Pertanian dalam arti luas termasuk didalamnya : Pertanian tanaman, peternakan dan perikanan. Pertanian tanaman : Kelompok tanaman pangan, tanaman perkebunan, tanaman Hortikultura.
PELUANG:
Kenyataan beberapa produk pertanian organik sudah “dikenal” dan yang sudah ada di pasar (DN & Export), antara lain :
Tanaman pangan : padi organik
Tanaman perkebunan : teh organik, kopi organik
Tanaman hortikultura : berbagai sayuran organik, buah-buahan organik
Peternakan : daging dan telur ayam organik
Perikanan : hasil tambak organik (udang, ikan dll).
Bayangan (image) produk pertanian organik :
Positif : Sehat/aman, rasa lebih enak, aroma lebih baik, tekstur lebih baik.
Negatif : Mahal, eksklusif, produktivitas rendah, penampilan kurang baik
Siapa konsumen produk pertanian organik?
KENDALA:
A. Aspek Budidaya :
- Luas pemilikan lahan petani yang rata-rata sempit, sehingga sulit menciptakan lingkungan yang sesuai bagi pertanian organik
- Penguasaan pengetahuan dan tehnik budidaya pertanian organik dalam lingkup “tidak terisolir” yang kurang dikuasai.
- Anggapan bahwa pertanian organik id entik dengan pertanian primitif/tradisional/subsisten yang tidak menggunakan “teknologi”, sehingga hasilnya rendah.
- Perlu perubahan sikap yang mendasar untuk melakukan peralihan dari sistem pertanian konvensional menjadi sistem pertanian yang berwawasan lingkungan.
- Penghargaan / penilaian konsumen terhadap produk pertanian organik yang kurang, sehingga tidak menjadi daya tarik pada pengembangan produk ini.
B. Sertifikasi :
- Standarisasi produk yang belum ada pada semua komoditas dan kesesuaiannya dengan kondisi di negara berkembang.
- Institusi mana yang berwenang melakukan standarisasi?
- Sertifikasi produk atau sertifikasi proses?
C. Sosialisasi / promosi :
- Kepentingan siapa ?
- Peran Pemerintah atau Produsen (assosiasi)?
- Pelaku Pasar atau “Ilmuan”?
- Peran Media?
Beberapa aspek dalam budidaya sistem pertanian organik yang perlu diperhatikan (pada kasus produksi pertanian-tanaman) adalah:
1. Pemeliharaan Kesuburan Tanah antara lain:
- Siklus N dan siklus C
- Memelihara biota dalam tanah : cacing, mikroorganisme
- Meminimalkan “beban tanah” yang dapat menyebabkan erosi (air, angin, hasil perbuatan manusia)
- Melakukan pengomposan dan melakukan pemulsaan
2. Keseimbangan Ekosistem Pertanian
Ekosisitem pertanian adalah jaringan / hubungan / komplek pada lingkungan pertanian, yaitu antara tumbuhan, hewan , manusia dan bentuk kehidupan lain. Hubungan tersebut antara lain dapat berupa rantai makanan sebagai berikut :
  • Manusia Tumbuhan
  • Hewan dan
  • Bentuk Kehidupan Lain
3. Keanekaragaman Hayati (Biodiversity)
Keanekaragaman hayati adalah gabungan antara sejumlah jenis dan sejumlah individu mahluk hidup dalam suatu komunitas. Keanekaragaman hayati berkaitan dengan semua species tanaman, binatang dan mikroorganisme yang berinteraksi dengan ekosistem setempat.
3.1 Keanekaragaman Tanaman:
Tingkat keanekaragaman tanaman dalam ekosistem pertanian tergantung pada :
  • Keanekaragaman vegetasi di dalam dan di sekitar ekosistem pertanian
  • Macam / jenis tanaman yang dikelola dan Intensitas pengelolaan
  • Luasan pemisahan ekosistem pertanian yang dikelola.
3.2 Keseimbangan Serangga Hama dan Musuh Alami:
Serangga hama dan musuh alami merupakan bagian keanekaragaman hayati. Spesies serangga menguntungkan mengendalikan serangga hama sebagai : predator, parasit dan parasitoid Gangguan pada Keseimbangan Hayati dapat disebabkan oleh : Penggunaan pestisida/herbisida, pencemaran atmosfer, pencemaran tanah dan air.
4. Teknik Budidaya Tanaman
- Pada persiapan benih : Benih berasal dari pertumbuhan tanaman yang alami
- Pada Kegiatan Pengolahan Tanah :
Memperkecil kerusakan tanah oleh traktor; pengolahan tanah minimum; memacu perkembangbiakan organisme tanah; menjaga aerasi tanah tetap baik
- Pada Kegiatan Penanaman :
Melakukan penanaman multikultur; melakukan rotasi tanaman secara bertahap; memperhatikan kombinasi tanaman dalam satu luasan lahan tertentu; menanam tanaman sisipan dan tanaman pendamping; menanam tanaman pagar, penolak hama, penarik hama; tanaman pupuk hijau; pestisida hayati.
- Pada Kegiatan Pengairan:
Menggunakan air bebas bahan kimia sintetik
- Pada Kegiatan Pemupukan :
Menggunakan pupuk organik
- Pada Pengendalian Hama Penyakit dan Gulma:
Harus berdasarkan keseimbangan alami; penggunaan pestisida hayati
Daftar Pustaka
  1. Joko Prayogo, Toni Suyono, Michael Berney. 1999. Apa itu pertanian Organik? Pusat Pengembangan Penataran Guru Pertanian (VEDCA) Cianjur. Indah Offset Malang`
  2. Kasumbogo Untung. 1997. Pertanian Organik Sebagai Alternatif Teknologi dalam Pembangunan Pertanian. Diskusi Panel Tentang Pertanian Organik. DPD HKTI Jawa Barat, Lembang 1996
  3. Kumar H.D. 1981. Modern Concepts of Ecology. 2nd Revised Edition. Vikas Publishing House PVT LTD. Navin Shahdara, Delhi.
  4. Sri Sumarni dan Agatho Elsener.1997. Pengendalian Hama dan Penyakit di BSB. 
  5. National Conference on Biopesticides with Emphasis on Neem. Surabaya 11-13
  6. Agustus 1997.
  7. Syamsudin Djakamihardja. 2001. Pertanian Organik Sebagai Salah Satu Teknologi Pertanian Alternatif (Sustainable Agriculture). Seminar Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Padjadjaran. Agustus 2001



*) Makalah disampaikan pada Ceramah Ilmiah Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, 15 April 2006.
**)Staf Pengajar Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran.
Share this article :

1 komentar :

  1. thakn'z buat tulisannya,,,,
    dari beberapa kendala dalam pengembangan pertanian organik seperti yang telah dipaparkan dalam tulisan ini, kira-kira solusi apa yang dapat ditempuh sehingga dapat merubah pola pikir petai indonesia untuk beralih pada sistem pertanian organik,,,maksihhhh,,,,

    BalasHapus

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Univ Pertanian - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger